Khoja dan Penyebarannya di Indonesia


Kota Semarang dikenal sebagai kota yang memiliki beragam etnis dan budaya. Ada etnis Jawa, Tionghoa, Arab, India dan juga Pakistan. Di Indonesia para keturunan India dan Pakistan ini biasa dikenali dengan sebutan Khoja.

Ada banyak versi tentang koja atau khoja. Salah satu literatur sebagai sumber sejarah menyebutkan bahwa kata Khoja berasal dari kata Khwaja dalam bahasa persia dan merupakan gelar kehormatan untuk suku bangsa khusus di Asia Selatan (Hindustan) yang telah berpindah menjadi Agama Islam.

Sedangkan dalam literatur sejarah Islam di Nusantara, istilah Khoja merujuk kepada para pendatang muslim asal Gujarat di India yang menetap dan menyebarkan agama Islam melalui perniagaan. Karena itu Van den Berg seorang orientalis berkebangsaan Belanda dalam bukunya menuliskan bahwa, nama pekojan diambil dari kata koja yang artinya adalah pedagang, dan pekojan adalah kampungnya para pedagang. Jauh sebelum terbentuknya koloni Arab di Nusantara, Pemerintah Belanda sudah menetapkan Pekojan sebagai zona pemukiman para pendatang muslim asal Gujarat dan Benggali yang dikelompokan sebagai bangsa Moor oleh pemerintah kolonial Belanda.

Beberapa tempat di Indonesia masih dapat kita jumpai nama kawasan yang disebut dengan Pekojan seperti antaranya adalah Jakarta dan Semarang. Jejak-jejak bangsa khoja, koja atau ada yang menyebutnya kujo dan tambol masih bisa kita saksikan di kedua kawasan bersejarah tersebut terutama di kota Semarang. Karena itu sacara umum nama khoja kini sudah digunakan untuk penyebutan kepada warga keturunan India-Pakistan di Indonesia. Baik yang masih terikat oleh tali perkawinan antar etnis yang sama maupun hasil perkawinan dengan wanita-wanita pribumi atau suku lainnya.

Menurut penuturan ayah saya Abdullah, yang juga masih keturunan Pakistan bahwa, dahulunya orang-orang Khoja bermula dari kota Semarang yang pemukimannya dipusatkan dan berada pada kawasan di jalan Pekojan dan Petolongan.


Pekojan Tempo Doeloe
Kampung Pekojan yang berada dekat dengan kawasan pecinan atau china town di kota Semarang memiliki peranan penting bagi sejarah di kota itu, dengan telah memberikan andil besar dalam perubahan yang sangat pesat pada kegiatan perekonomiannya, terutama aktivitas perdagangan dan jasa.

Saat ini warga Khoja sudah banyak menyebar dan tinggal tersebar di luar wilayah Kota Semarang, bahkan kini sudah menyebar hampir seluruh wilayah di Indonesia. Salah satu aktor Indonesia A. Rafiq dan juga penyanyi dangdut yang terkenal lewat lagu “Pandangan Pertama” juga meruapakan warga keturunan Pakistan asal kota Semarang, anak dari Hasyim yang tinggalnya di jalan Wotprau.

Karena kedatangan etnis Pakistan-Indonesia pada awalnya sebagai pedagang, maka mereka meneruskan pekerjaan dan keahliannya tersebut untuk berdagang sampai sekarang. Bisnis atau perdagangan yang mereka geluti adalah di bidang optik, konveksi (kain), arloji dan juga rempah-rempah yang dibawa langsung dari tanah kelahirannya. Kini untuk menemukan para pedagang keturunan khoja dapat kita jumpai di daerah sekitar jalan MT. Haryono dan di sudut Kawasan Perdagangan Pasar Johar Semarang. Perdagangan tersebut mereka wariskan secara turun temurun kepada anak-anaknya, hal ini bertujuan agar usaha yang mereka miliki tetap eksis.

Seni dan Budaya di Semarang
Di Kampung Wotprau, tanggal 2 Maret 2019 lalu diselenggarakan acara “Grebeg Gayeng Seni dan Budaya Kampung Semarang”. Kegiatan yang pertama kali digelar ini bertujuan mengangkat kembali budaya khas yang selama ini belum dikenal. Dalam acara yang diselenggarakan adalah tarian india, makanan dan jajanan india, juga berbagai aksesoris. Acara “Grebeg Gayeng Seni dan Budaya Kampung Semarang” diharapakan menjadi icon budaya Semarang dan akan menjadi kekayaan khazanah sejarah, seni dan budaya di tanah air.


Sumber foto Tribun
Terlihat juga beberapa pengunjung yang ikut serta masuk berisan mengikuti gerakan khas yang dilakukan layaknya para aktor dan aktris dalam Film Bollywood. Zaenul selaku Ketua Komunitas NISG (Nada Irama Sungai Gangga) mengatakan jika tujuan dari di bentuknya komunitas tersebut memang ditujukan untuk menghibur masyarakat. Grup yang berdiri sejak 1978 tersebut dimaksudkan sebagai wadah perkumpulan para pecinta Bollywood di Kota Semarang. Hingga kini, pihaknya sudah mempunyai 400-an personel baik dari tingkat 10 tahun hingga dewasa.

Belum ada Komentar untuk "Khoja dan Penyebarannya di Indonesia"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel